19 Apr 2017

Kesepakatan Bersama Antara KEMENSOS RI dengan RAPI Nasional

Salam 51-55

Pada hari Jum'at Tanggal 24 Maret 2017 telah dilaksanakan penanda tanganan kesepakatan bersama antara Kementerian Sosial RI dengan Radio Antar Penduduk Indonesia yaitu oleh Ibu Khofifah Indar Parawansa selaku Menteri Sosial RI dan Bapak H. Agus SUlistiyono selaku Ketua Umum RAPI Nasional.

Dalam acara tersebut juga dilaksanakan penganugerahan 10-28 kehormatan yaitu JZ09KIP untuk Ibu Khofifah Indar Parawansa oleh Bapak H. Agus Sulistiyono - JZ12AY.

Semoga dengan adanya Kesepakatan Bersama tersebut diharapkan akan dapat dirasakan kerja nyatanya oleh masyarakat Indonesia terkhusus kinerja kita selaku anggota RAPI dalam membantu pemerintah dalam membangun kesejahteraan masyarakat di Negeri Tercinta ini Aamiin...











Terima kasih... Salam...


Jajank - JZ06ALQ

8 Apr 2017

Etika Komunikasi

Salam 51 55...

Etika 10-25 tentang Kode Sepuluh
Berawal dari istilah "Ala Bisa karna Biasa"
"Bisa" karena di-"Biasakan".

Maksudnya adalah, jika kita rutin melatih diri untuk suatu kegiatan, apapun itu, baik yang sifatnya Mudah, Agak Sukar atau Sukar sekalipun, niscaya kita akan bisa melakukannya dengan baik.
Demikian juga halnya dalam kegiatan berkomunikasi (RAPI). Seperti tercantum dalam
PERMENKOMINFO No.34/PER/MENKOMINFO/08/2009
Pasal 17 Ayat (1) Stasiun KRAP dilarang digunakan untuk :
Butir C. Memancarkan berita sandi kecuali Kode-10.

Dalam berkomunikasi pada pita frequensi KRAP, sandi komunikasi yang berlaku adalah Kode 10 (sepuluh).
Contoh :
10-25 Menghubungi/Kontak dengan....
10-23 Standbye/Menunggu Panggilan Berikutnya... dst... dst... dll...

Sebagaimana Kode 10 telah dirumuskan dan ditetapkan sebagai sandi komunikasi KRAP, tentunya kita tau bahwa sandi tersebut akan memiliki arti/makna yang sebenarnya jika diucapkan dengan lengkap dan benar. Yaitu diawali dengan pengucapan Kode 10 (sepuluh) dan diikuti sandi terarah untuk angka/bilangan berikutnya.

Namun... Kebanyakan dari kita terkadang suka "Memenggalnya" dengan tidak mengawalinya dengan pengucapan kode 10 (sepuluh)nya. Misal :
Saya 23 (untuk stanbye) atau...
Saya lagi 76 ke.... (karna dalam perjalanan) atau...
Saya di 78 (karna lagi ditempat aktifitas).
Lalu kenapa kita tidak menyebut
1 utk penerimaan buruk,
2 untuk penerimaan baik,
3 untuk off air.
4 untuk benar/dimengerti dst, dst...

Coba kita ibaratkan Kode 10 tersebut dengan Nomor Telpon atau HP. Misal :
082269448855 (Nomor HP saya JZ06ALQ)
Coba kita hubungi nomor tersebut dengan tidak menyertakan beberapa angka yaitu 2269448855 atau 69448855 saja   Apa akan terhubung...?

Penyebutan/pengucapan Kode 10 yang tidak benar itu dampaknya jelasss akan ditiru oleh para pemula. Karena kebiasaan tersebut dia dengar diucapkan oleh para Pendahulu / "Senior"nya.
Ingat... Pemula/Yunior biasanya akan menirukan Pendahulu/Seniornya...

Yuuk... Kita rubah kebiasaan buruk dalam mengucapkan Kode 10,
Tetimakasih...

========================================================================

Etika 10-25 tentang 10-28.
Ala "BISA" karna "BIASA"
Dalam Sandi Komunikasi KRAP atau Kode 10, bahwa 10-28 adalah Callsign/Nama Panggilan.
Sebagaimana tercantum pada PERMENKOMINFO NO.34/PER/M.KOMINFO/08/2009
Pasal 8 Ayat 1 s/d 7.

Contoh : JZ06ALQ
(Juliet Zulu Kosong Enam Alpha Lima Quebex) = BENAR atau
(Juliet Zulu Nol Enam Alpha Lima Queen).= BENAR JUGA atau
(Kosong Enam Alpha Lima Queen).= Masih dianggap BENAR.

Itu adalah Pengucapan/Penyebutan 10-28 yang dibenarkan dan masih dimengerti... Mengapa...?
Karena Region dan Suffixnya sangat jelas menunjukkan bahwa 10-28 tersebut pemiliknya dari Region 06 Sumatera Selatan. Pengucapannyapun sesuai urutan Penulisannya. (Prefix Region dan Suffix)

Tapi mengapa kita terkadang sering mendengar "Penyebutan/Pengucapan" 10-28 yang salah...? Contoh :
"Alpha Lima Queen - Enam Di Depan" atau
"Echo Uniform Yankee - Sepuluh Di Depan" atau
"Alpha Kilo - Dua Satu Di Depan"

Kenapa tidak sekalian saja menyebut atau memanggil nama pemilik 10-28 tersebut dengan :
"INDRA, EDY S di depan" atau
"NURHAYAT, AYAT di depan" atau
"ANTO, UJU di depan"

Andai Bang Ujuanto itu sudah memiliki gelar HAJI, Apa dia mau kalo kita panggil begini :
"Bang Ujuanto Haji di depan..."

Lagi-lagi tentu dampaknya akan merusak Etika Komunikasi bagi Pemula yg pasti akan meniru para Pendahulu/Seniornya yang memberi contoh yang Keliru...

Yuuk... Kita rubah kebiasaan buruk pada Pengucapan / Penyebutan 10-28.
Terima kasih... (JZ06ALQ)

========================================================================

Etika 10-25 tentang Penempatan Kata yang Benar.

Antara kata "GANTI" dan kata "ROGER"

Dalam kegiatan Komunikasi Radio Antar Penduduk (KRAP) alat utama komunikasinya adalah Radio Tranceiver (Radio yang berfungsi sebagai Pemancar dan Penerima) yang bekerja pada frekuensi yang sama antara penggunanya yang sedang berkomunikasi. Dan berkomunikasi menggunakan Radio Tranceiver tentunya berbeda dengan berkomunikasi menggunakan Telepon, Ponsel atau Smartphone yang penggunanya dapat berbicara berbarengan dan saling mendengarkan.

Sementara dalam berkomunikasi menggunakan Radio Tranceiver, setiap pengguna yang sedang berkomunikasi harus BERGANTIAN dalam berbicara dan mendengarkan. Pengguna harus tau kapan saat Berbicara (Memancar) dan saat Mendengarkan (Menerima).

Dalam kegiatan KRAP, seorang pengguna yang sedang berbicara (Memancar) dengan lawan bicaranya pasti akan memberikan SIGNAL atau TANDA atau KODE untuk memberikan kesempatan lawan bicaranya untuk menjawab apa yang telah dia sampaikan kepada lawan bicaranya tersebut.

SIGNAL atau TANDA atau KODE tersebut adalah dengan mengucapkan kata "GANTI" disetiap akhir kata yang dia ucapkan yang menandakan bahwa dia memberi kesempatan lawan bicaranya menjawab.

Dalam kegiatan KRAP (yang Hanya ada di INDONESIA), tentunya ada aturan atau etika dalam berkomunikasi melalui Frekuensi Radio dengan menggunakan Radio Tranceiver tersebut.
Salah satunya adalah ;
> Wajib Menggunakan Bahasa Indonesia atau bahasa yang sama-sama dimengerti oleh para pengguna dalam berkomunikasi (Bahasa Daerah);

Kata "GANTI" adalah SIGNAL atau TANDA atau KODE yang menandakan Pergantian antara Berbicara dan Mendengarkan. Di Indonesia yang kaya akan berbagai bahasa, tentunya kata "GANTI" bisa diucapkan dalam berbagai bahasa daerah seperti  :

"GENTOS" dalam bahasa daerah yang ada di Pulau Jawa.
"TUKER" dalam bahasa yang gaul
"GONTI" atau "GENTI" dalam bahasa daerah yang ada di Sumatera Selatan
Atau dalam bahasa yang dimengerti oleh seluruh dunia seperti :
"OVER"  atau "GO A HEAD"

Contoh :
"Mohon maaf... suaranya agak terputus-putus, mohon beritanya dibacakan ulang.  Ganti..."

"Baik... Terimakasih atas responnya. Sekarang saya agak bergeser sedikit dari posisi semula, apakah sudah terdengar lebih baik, Ganti..."

Sekarang coba kita perhatikan kegiatan ber-KOMUNIKASI sehari-hari seperti di rumah, di kantor, di pasar, atau dimanapun yang menggunakan kata "GANTI".

Contoh 1 :
Jajank :
"Mang Udin... tadi lihat Flashdisc yang saya taruh di meja ini tidak...?"

Udin :
"Sejak saya duduk dimeja ini saya tidak melihat ada Falshdisc Jank..."

Jajank :
"Wah... Gawat... Flashdisc itu milik Bang Zebra, jika hilang terpaksa aku harus beli yang baru untuk meng-GANTI-nya..."

Contoh 2 :
Seorang SATGASKOM RAPI yang sedang mengikuti BANKOM disatu lokasi menuju Posko Induk melaporkan :

"Maaf mengganggu Pak, saya bertugas di Posko dua. Melaporkan bahwa Radio Komunikasi yang ada dipos kami mengalami kerusakan dan harus secepatnya diperbaiki.."

"Bawa Radio cadangan ini keposkomu sebagai GANTI-nya, dan tolong radio yang rusak secepatnya diantar kesini..."

"10-4 Pak... Terimakasih..."


Contoh 3 :
"Bro... kalo ngantuk jangan dipaksakan.... Sini GANTI-an biar saya yang nyetir..."

Dari ketiga contoh diatas, yuk kita coba untuk mengganti kata "GANTI" yang terdapat dalam kalimat pada ketiga contoh tersebut dengan kata "ROGER". Maka akan jadi seperti ini :

Contoh 1 :
Jajank :
"Mang Udin... tadi lihat Flashdisc yang saya taruh di meja ini tidak...?"

Udin :
"Sejak saya duduk dimeja ini saya tidak melihat ada Falshdisc Jank..."

Jajank :
"Wah... Gawat... Flashdisc itu milik Bang Zebra, jika hilang terpaksa aku harus beli yang baru untuk meng-ROGER-nya..."

Contoh 2 :
Seorang SATGASKOM RAPI yang sedang mengikuti BANKOM disatu lokasi menuju Posko Induk melaporkan :

"Maaf mengganggu Pak, saya bertugas di Posko dua. Melaporkan bahwa Radio Komunikasi yang ada dipos kami mengalami kerusakan dan harus secepatnya diperbaiki.."

"Bawa Radio cadangan ini keposkomu sebagai ROGER-nya, dan tolong radio yang rusak secepatnya diantar kesini..."

"10-4 Pak... Terimakasih..."

Contoh 3 :
"Bro... kalo ngantuk jangan dipaksakan.... Sini ROGER-an biar saya yang nyetir..."

Bagaimana menurut Anda...???
Yang mana kata yang BENAR dan Tepat Guna...???

Yuuk mari kita coba membiasakan penempatan dan penggunaan kata yang Benar dan tepat guna dalam berkomunikasi, agar para pemula juga bisa membiasakan berkomunikasi dengan BAIK dan BENAR...

Terima kasih... Salam...


Jajank - JZ06ALQ

RAKERNAS VII Nopember Tahun 2016

Salam RAPI 51 55

Masih dengan tema Entry yang tertunda...  Galery Kegiatan RAKERNAS...

























Terima kasih... Salam...


Jajank - JZ06ALQ

7 Apr 2017

Pelantikan Pengurus Daerah RAPI Daerah 06 Sumatera Selatan

Salam 51 55
Entry yang tertunda...

Mudah-mudahan photo-photo dokumentasi saat acara Pelantikan Pengurus Daerah Radio Antar Penduduk Indonesia Daerah 06 Sumatera Selatan Masa Bakti Tahun 2016 sampai dengan Tahun 2021 yang acaranya dilaksanakan pada Tanggal 09 Oktober 2016 ini bisa mewakili kata dan aksara untuk bercerita.... 








































































































































































Terima kasih... Salam...


Jajank - JZ06ALQ